Teologi Hari Minggu
1.
Pengantar
Hari Minggu yang sekarang selalu kita rayakan, sebenarnya memiliki
latar belakang yang kompleks. Kita yang memiliki iman akan Kristus, kadang hanya
mengikuti perayaanya begitu saja yang sudah kita terima dari
pendahulu-pendahulu kita tanpa memikirkan bagaimana terjadinya. Jika ditelusuri
lebih mendalam, ternyata perayaan hari Minggu memiliki proses yang sangat
panjang dan kompleks. Dengan demikian, tema hari Minggu ini akan memberikan
kepada kita pokok bahasan akan latar belakang, liturgi dan kemudian akan ditambahkan
pengertian untuk menambah penghayatan kita akan perayaan ini. Akhirnya tema
akan membahas bagaimana perayaan hari Minggu mengganti perayaan pagan.
2.
Latar belakang
Sebenarnya, hari Minggu Kristiani adalah
suatu perayaan yang tergantung dari berbagai institusi dan perayaan yang bukan
Kristiani yang bahkan terjadi sebelum kelahiran Kristianisme.
Pada abad pertama sesudah Kristus, tradisi
kuno Yunani - Romawi mengenal suatu perayaan yang disebut dengan hari yang
disucikan pada Matahari, yang dirayakan pada hari pertama dari setiap Minggu
menurut penghitungan nama-nama planet.[1] Pada
hari ini dirayakan hari keadilan yang dilambangkan dengan terang Matahari.[2] Kemudian,
Kristiani melihat bahwa Kristus adalah Matahari sejati, dengan demikian, arti
perayaan Yunani-Romawi ini dibaptis menjadi perayaan Kristiani yang juga
membawa kedamaian dan memberikan tempat padang rumput pada domba-dombanya.
Teologi terang menjembatani kedua tradisi itu. Oleh sebab itu hari Minggu
disebut dengan hari Matahari, yang praktis mengambil nama pesta kafir.[3] Eusebius,
melalui bukunya Riwayat Hidup Konstantinus, membuktikan bahwa
kaisar ini menginkulturasi nama pesta pagan ini ke hari Minggu.[4] Dasar
perayaan ini adalah kebangkitan Yesus Kristus yang terjadi pada hari pertama
pada Minggu.[5] Akan
tetapi, kalau kita memperhatikan Tradisi Kristiani pertama, mereka merayakan
kebangkitan Kristus bukan pada hari Minggu sore[6] dan
mereka makan bersama untuk mengenangkan kebangkitan Yesus Kristus.[7] Kemudian
pada abad kedua, perayaan paska pada hari Minggu semakin dipertegas sebagai
perayaan hari kebangkitan Yesus Kristus. [8]
Penemuan Qumran menyingkapkan kebiasaan sekte
Yahudi ini yang mengatakan bahwa pesta selalu diadakan setiap tahun dan setiap
Minggu baik itu pada hari Rabu, Jumat atau hari Minggu. Tetapi sampai saat ini
penemuan Qumran, belum menemukan posisi pesta hari Minggu ini. Kemungkinan
besar adalah bahwa perayaan hari Minggu merujuk pada pesta Kristiani yang asli.
Perayaan hari Minggu juga sudah merupakan
suatu perayaan Kristiani yang bisa kita lihat di dalam Kristiani purba.[9] Akan
tetapi kebanyakan para ahli cendrung berpendapat bahwa pada awalnya, Kristiani
berkumpul pada hari Sabtu sore dengan mememcah-mecahkan roti untuk mengenangkan
perayaan hari Sabtu orang Yahudi yang tetap dikenang oleh Kristiani pertama.
Kemungkinan besar tradisi ini dipengaruhi oleh Yahudi-kristiani. Kemudian pada
abad kedua, perayaan dipindahkan pada hari Minggu pagi untuk mengenangkan
kebangkitan Yesus Kristus.
Pendapat yang paling baru menyatakan bahwa
perayaan hari Minggu baru dimulai pada akhir abad kedua, melalui Gereja Roma
sebagai reaksi anti tradisi Yahudi dan mengikuti tradisi pagan yaitu prayaan
matahri.[10] Sebenarnya
pendapat ini dasarnya kurang kuat, karena berdasarkan Kitab Suci yang telah
dituliskan sebelumnya, bisa disimpulkan bahwa Kristiani purba telah merayakan
hari Minggu atau hari Pertama sebagai perayaan khas Kristiani untuk
mengenangkan kebangkitan Yesus Kristus. Dsarnya adalah Injil Sinoptik dan
Yohanes (Mat. 28:1-10; Mrk. 16:1-8; Luk. 24:1-12; Yoh. 20:1-10).
3. Teologi Hari Minggu
Ada tiga nama lain di samping hari Minggu,
yang lazim digunakan, seperti hari Tuhan, hari Pertama, hari Kedelapan.
3.1. Hari Tuhan
Hari Tuhan dapat ditemukan dalam Kitab Wahyu yang telah dikutip pada bagian sebelumnya,[11] kemudian dapat juga ditemukan di dalam salah satu tulisan Gereja purba,[12] dan di dalam salah satu injil apokrif.[13] Pencatatan hari Tuhan pada periode berikutnya ditemukan di dalam buku Sejarah Gereja yang ditulis oleh Eusebius.[14]
Hari Tuhan analog dengan Perjamuan Malam Terakhir;[15] alasannya ialah karena dalam pertemuan-pertemuan Kristiani Purba, mereka melaksanakan perjamuan, dengan kesadaran bahwa dengan cara ini nyawa mereka terancam. Pada waktu itu penganiayaan terhadap penganut Kristus terjadi di mana-mana. Perjamuan semacam inilah yang selalu diadakan di dalam pertemuan hari Minggu.
Nama hari Tuhan juga berdasar pada hari kebangkitan Yesus Kristus yang terjadi
pada hari Minggu yang diungkapkan dengan jelas sekali di dalam Injil Mateus dan
Markus yang mengatakan “Setelah hari Sabtu lewat.”[16] Bahkan
Injil Mateus menceriterakan situasi pada waktu kebangkitan itu dengan
mengatakan bahwa pada waktu itu terjadi gempa bumi yang hebat sebab seorang
malaikat Tuhan turun dari langit untuk menggulingkan batu penutup makam Yesus
lalu duduk di atasnya. Wajahnya bagaikan kilat dan pakaiannya putih bagaikan
salju. Dan penjaga-penjaga itu gemetar ketakutan dan menjadi seperti
orang-orang mati. Akan tetapi malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan
itu: “Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan
itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah
dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring.”[17] Memang
harus diakui bahwa tidak ada seorangpun yang menjadi saksi kebangkitan itu,
seperti bagaimana Ia bangkit, kapan persisnya Ia bangkit dan sebagainya.[18] Maka
yang mau dikatakan di dalam kejadian ini ialah bahwa hari Minggu adalah hari
Tuhan, yaitu hari kebangkitan Yesus Kristus dari mati, kemenangan atas maut.
Yesus adalah sungguh Tuhan, sehingga hari kebangkitan itu disebut dengan Hari
Tuhan.
Eusebius memberikan perbedaan paska orang
Ibrani dengan Kristiani. Ia mengatakan bahwa orang Ibrani merayakan paska
menurut hukum, mengurbankan anak domba paska sekali setahun yang jatuh pada
tanggal empatbelas pada bulan yang pertama. Sementara
itu Kristiani merayakan paska setiap hari Tuhan, dan selalu menyambut
anak domba Allah, tubuh penyelamat, dan selalu mengambil bagian pada darah Anak
Domba.[19] Oleh
sebab itu setiap kali kita mengambil bagian pada hari Tuhan, atau setiap kali
kita merayakan ekaristi, kita selalu merayakan paska, hari kebangkitan Kristus
Tuhan. Kristiani menyebut tempat perayaan itu dengan rumah Tuhan,[20] walaupun
mereka sendiri belum memiliki tempat yang menetap seperti yang kita miliki
pada zaman moderen ini, karena mereka di dalam penganiayaan sampai
dengan awal abad ke empat. Oleh sebab itu mereka merayakan ekaristi di
rumah-rumah secara berpindah-pindah atau di bawah tanah. Sungguh suatu ironis
jika di beberapa tempat gereja kosong pada perayuaan Hari Tuhan atau terlalu
menekankan materil gereja dan mengesampingkan makna perayaan itu sendiri untuk
masing-masing umat beriman. Inilah keunggulan Kristiani awali
menekankan nilai-nilai iman yang menjiwai hidup mereka.
Tertulianus menambahkan peraturan-peraturan
pada hari Tuhan. Pada hari Tuhan kita harus berhenti dari kesibukan-kesibukan
kita, walaupun masih bisa melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang dianggap perlu
untuk menghindarkan kita dari berbagai pencobaan setan yang selalu berusaha
menyerang kita.[21] Penghormatan
dengan cara ini membedakan Kristiani dengan orang Yahudi yang tidak
bisa mengerjakan apapun pada hari Sabat. Akan tetapi, perayaan hari Tuhan
memiliki resiko sangat tinggi, karena Kristiani pada waktu itu dalam
penganiaan;[22] walaupun
demikian mereka tidak merasa takut untuk melaksanakannya. Sebenarnya Kristiani juga
memiki rintangan lain, berasal dari orang Yahudi. Mereka mengaggap
bahwa Kristiani adalah penghianat. Sehingga tidak jarang terjadi
diskusi antara Kristiani dan orang Yahudi; hal ini bisa kita lihat
dalam beberapa apologi dari Kristiani terhadap orang yuhudi, misalnya
apologi yang ditulis oleh Yustinus. Di pihak lain, orang Romawi menganggap
bahwa Kristiani adalah sekte yudaisme, sehingga lengkaplah serangan
terhadap Kristiani. Serangan juga datang dari orang Yunani.
Mengenai hari Tuhan, Konstitusi Para Rasul
menegaskan bahwa hari ini adalah hari yang lebih penting karena menunjukkan
perantara, pelaku kebangkitan, anak sulung semua ciptaan, Tuhan yang menjadi
manusia, anak sulung Maria tanpa campur tangan manusia yang telah disalibkan di
bawah pemerintahan Ponntius Pilatus, mati dan bangkit dari anatara orang mati;
dan pada hari Tuhan inilah Ia mengundang orang kepada-Nya untuk mempersembahkan
perbuatan dan segala sesuatu.[23]
3.2. Hari Pertama
Hari Minggu disebut juga dengan hari Pertama
yang berhubungan dengan perhitungan hari menurut tradisi Yahudi, tradisi
pendahulu yang telah dibahas sebelumnya pada pembahasan hari Sabtu. Berdasarkan
perhitungan itu, hari Sabtu adalah hari terakhir (ketujuh) dalam pekan; itu
berarti bahwa hari Minggu adalah hari Pertama dalam pekan. Pada hari itulah
Yesus bangkit sehingga hari itu disebut juga dengan hari kebangkitan Yesus
Kristus.[24] Tradisi Kristiani ini
praktis memutarbalikkan tradisi Yahudi yang memelihara tradisi Sabat. Bagi
mereka hari Pertama adalah hari kerja; sementara itu bagi Kristiani, hari
tersebut adalah hari sukacita. Itulah alasan sehingga hari tersebut menjadi
hari libur, hari yang diperuntukkan kepada Tuhan. Pada hari
tersebut Kristiani berkumpul untuk merayakan sukacita yang mereka
miliki.[25] Dengan
demikian, hari Sabtu yang dihormati orang Yahudi yang bisa juga desebut dengan
hari Tuhan, dihapuskan dan diganti dengan hari Pertama.
Atanasius melihat hari Pertama dalam kaitannya
dengan penciptaan dan hari Sabtu. Tuhan telah menciptakan Adam dan Hawa,
manusia pertama dan kemudian Ia beristirahat; kemudian manusia pertama itu
jatuh ke dalam dosa. Kebangkitan Yesus Krustus yang terjadi pada hari Pertama
adalah penciptaan kedua, dalam arti penderitaan Kristus yang melahirkan
keselamatan adalah akhir penciptaan pertama dan kebangkitan-Nya yang terjadi
pada hari pertama adalah awal penciptaan kedua.[26]
Kalau dihubungkan dengan Kitab Suci, hari
Pertama adalah hari penciptaan terang.[27] Kristiani pertama
tidak mengalami kesulitan mengartikan terang ini dengan tradisi pagan, hari
Matahari.[28] Kemudian
kebangkitan Kristus juga dilambangkan dengan Matahari, atau fajar menyingsing.[29] Pada
tahun 321, Konstantinus menyatakan bahwa hari Pertama adalah hari libur dari
segala pekerjaan.[30] Dengan
demikian, perintah untuk beristirahat pada hari Sabtu semakin ditinggalkan dan
menjadi pada hari Pertama. Akhrinya pada abad ke lima, perayaan hari Pertama
sebagai hari libur menjadi kewajiban.[31]
Efrem dari Siro melihat pengertian lain
dengan hari Pertama yang dikaitkan dengan tradisi orang Ibrani yang menghormati
anak pertama. Bahkan Israel sendiri disebut dengan anak sulung atau anak
pertama yang artinya terberkati. Sehubungan dengan itu, Kristiani adalah orang
yang terberkati, karena mereka disebut dengan buah sulung Tuhan. hari Minggu
adalah hari Pertama dalam pekan, dalam konteks ini, hari tersebut adalah hari
yang sulung dalam pekan, juga berarti hari yang terberkati karena hari
kebangkitan Kristus. Dari hari yang pertama atau sulung inilah umat beriman
memperoleh sumber yang tidak ternilai untuk keseluruhan pekan,[32] tentu
saja bagi mereka yang mengambil bagian di dalam perayaan ini. Itulah alasan
hari Pertama ini menjadi begitu penting bagi umat beriman; bukan berarti bahwa
hari yang lain tidak penting, karena semua hari adalah ciptaan Tuhan.
3.3. Hari Kedelapan
Hari Minggu juga dikenal sebagai hari
Kedelapan yang dapat ditemukan di berbagai sumber.[33] Hari
Kedelapan berdasar pada perhitungan hari Sabtu yang adalah hari Ketujuh atau
hari Pertama. Karena satu pekan adalah tujuh hari, dan karena hari Minggu
adalah hari Pertama, maka tujuh hari berikutnya adalah hari Kedelapan. Jadi
bukan berarti bahwa Tradisi Kristiani memiliki delapan hari dalam
pekan.
Pengertian lain ialah bahwa dalam tradisi
Yahudi, pada hari kedelapan, biasanya diadakan sunat bagi mereka yang baru
lahir. Sehubungan dengan ini Yustinus mengartikan bahwa pada hari
kedelapan, Kristiani menyunatkan hati, yaitu membersihkan hati dari
dosa-dosa, dari kejahatan berkat kebangkitan Yesus Kristus.[34] Hal
yang sama juga dikatakan oleh Ciprianus, kemudian ia menambahkan pengertian
lain, yaitu hari Minggu adalah hari Pertama sesudah hari Sabtu: artinya memang
hari Minggu itu adalah lebih unggul dari hari Sabtu sehingga disebut hari
Pertama dan hari Kedelapan. Oleh sebab itu hari ini disebut suci, karena
melahirkan kehidupan yang akan datang.[35] Di
samping itu hari Kedelapan adalah lambang kesempurnaan, yaitu menunjuk pada
kehidupan kekal; berarti suatu lambang kedekatan kepada Tuhan. Kemudian
Origenes menghubungkan hari sunat orang Yahudi yang biasa dilaksanakan pada
hari Kedelapan sesudah kelahiran tersebut dengan hari Kedelapan dengan
mengatakan bahwa sebelum hari Kedelapan atau sebelum disunat, orang penuh
dengan kenajisan dan kotor; dan pada hari Kedelapan, pada saat disunat, orang
dibersihkan dari segala kenajisan dan dosa-dosa. Karena hari Kedelapan
bagi Kristiani adalah Yesus Kristus bangkit dari antara orang mati,
artinya, manusia dibersihkan atau disucikan dari kenajisan, ditebus dari dosa-dosa
dan jiwa-jiwa kita dibersihkan.[36]
Kemudian di tempat lain Origenes, dalam
hubungannya dengan peristiwa roti yang turun dari surga,[37] mengatakan
bahwa roti itu diberikan mulai pada hari Pertama/Kedelapan, dan pada hari
Ketujuh yaitu pada hari Sabtu, tidak turn sama sekali. Oleh sebab itu siapa
yang mau memungutnya pada hari Ketujuh, tidak akan menemukan apa-apa. Bagi
Origenes, roti ini adalah lambang Rahmat Tuhan, Sabda Tuhan. Dalam hal ini
Origenes memberikan perbedaan Kristiani dan Yahudi, yang merayakan
hari Ketujuh, yang tidak mendapatkan apa-apa, karena manna pada hari tersebut
tidak turun; sedangkan Kristiani yang merayakan hari Kedelapan,
memperoleh rahmat dan membuat Sabda Tuhan selalu turun dari surga,[38] yang
adalah juga manna.
Kristiani purba juga melihat hari
Kedelapan ini dalam hubungan dengan pencurahan Roh Kudus dalam pembaptisan.[39] Hari
Kedelapan juga diartikan dengan hari penghakiman yang akan datang, karena pada
hari tersebut dikhususkan untuk berdoa kepada Tuhan demi kemenangan dalam
penghakiman tersebut.[40]
Memang dalam Penciptaan, hari istirahat jatuh
pada hari Ketujuh; pada waktu itu Tuhan beristirahat setelah Ia menyelesaikan
penciptaan semesta alam yang dipegang teguh oleh orang Yahudi. Clemen dari
Alexandria mengatakan bahwa memang hari Ketujuh adalah hari istirahat, hari
untuk berpuasa untuk mempersiapkan hari yang sebenarnya untuk beristirahat,
yaitu hari Kedelapan yang mengalirkan kebijaksanaan dan pengetahuan. Hari ini
adalah hari terang yang sebenarnya yang tanpa bayang-bayang dan berkat Roh
Kudus. Mereka yang mengambil bagian pada perayaan hari ini menguduskan iman dan
menerangi pengetahuan.[41]
4. Liturgi Hari Minggu
Dalam tradisi patristik, kita bisa
menenmukan liturgi paling kuno hari Minggu pada Didachè,[42] Yustinus
dan Tradisi Apostolik[43] yang
banyak mengambil rumusan dari Didachè. Pada awalnya, ekaristi
dirayakan sore hari (baik itu hari Sabtu atau Minggu), dengan suatu perjamuan
makan malam yang besar.[44] Perayaan
ini memiliki karakter eskatologi, akan tetapi tidak tertutup kemungkinan juga
untuk mereka yang sedang menantikan akhir dunia dan dalam terang kebangkitan
Yesus Kristus; mereka percaya bahwa Ia (Kristus) menyertai dan menyucikan
komunitas mereka. Oleh sebab itu, sebelum mereka memulai perayaan itu, mereka
meyesali kesalahan mereka terlebih dahulu kemudian mereka saling memaafkan
kesalahan satu sama lain sebelum mereka mengadakan komuni.[45] Kemudian
dilanjutkan makan malam dengan suasana agapè.
Tradisi ini kemudian bergeser untuk merayakan
hari Minggu pada pagi hari, sebelum Matahari terbit dan kemudian dihubungkan
dengan upacara baptisan. Dengan demikian perayaan hari Minggu sore hari
ditiadakan. Hal yang sama ditemukan juga dalam Yustinus. Ia mengatakan bahwa
perayaan hari Minggu adalah perayaan baptisan yang dilaksanakan pada hari
Minggu pagi,[46] kemudian
dilanjutkan dengan ekaristi.[47] Dengan
demikian bisa disimpulkan bahwa perayaan baptisan pada zaman Yustinus
berhubungan dengan perayaan hari Minggu. Sesudah pembaptisan yang dilaksanakan
di air yang mengalir,[48] para
baptisan baru dituntun untuk bersatu ke komunitas. Acara selanjutnya adalah
liturgi Sabda yang waktu itu masih mengikuti tradisi Sinagoga Yahudi, yaitu
pemimpin perayaan menjelaskan Sabda yang baru dibacakan. Sesudah itu mereka
berdoa dengan sikap berdiri, sebagai simbol kebangkitan.[49] Kemudian
para diakon membawa komuni kepada mereka yang tidak bisa hadir karena sakit.
Bagi mereka yang membutuhkan bantuan, umat mengadakan kolekte. Pada awal abad
ketiga, liturgi hari Minggu sudah semakin tertata baik seperti yang kita miliki
saat ini. Dengan demikian, para Bapa Gereja memiliki peranan penting di dalam
penetapan liturgi hari Minggu.
5. Dari Kebutuhan menjadi Kewajiban
Kristiani purba melihat bahwa hari
Minggu memiliki tiga unsur yang sangat penting: hari kurban, kebangkitan dan
syukur. Tentu saja ketiga unsur ini berdasar pada kebangkitan Yesus Kristus
yang mereka lihat sebagai dasar iman. Oleh sebab itu mereka merasa bahwa
perayaan hari Minggu bukan suatu kewajiban atau pemenuhan peraturan, melainkan
kebutuhan iman, perayaan iman. Lama kelamaan, karena ada pelanggaran dari
berbagai umat itu sendiri, kebutuhan berubah menjadi keputusan yang mengikat
dan mewajibkan. Maka Sinode Elvira, Spanyol (antara 300-303) memutuskan bahwa
perayaan hari Minggu adalah hari yang wajib bahkan siapa yang tidak pergi ke
gereja selama tiga hari Minggu berturut-turt maka dikeluarkan dari keanggotaan.
Peraturan mewajibkan juga dari kekaisaran, sehingga perayaan hari Minggu
menjadi suatu ikatan.
Pada awal abad IV, pesta Kristiani berkembang
dalam kehidupan masyarakat, karena kebebasan yang diperoleh dari kaisar
Konstantinus pada tahun 311, dengan dekrit Serdica. Berkat kebebasan ini,
Kristiani bisa merayakan pesta tanpa tekanan.[50] Lama
kelamaan pesta Kristiani mengambil alih peranan pesta pagan, dan bahkan
menggantikan pesta pagan dengan pesta Kristiani; dan lambat laun pesta
Kristiani mejadi pesta kekaisaran. Hal ini dapat kita ketahui dari kodex
Teodosius dan Yustinianus yang banyak mengatur mengenai pesta-pesta Kristiani
dan melarang pesta pagan.
Pada abad IV, hari Minggu menjadi pesta
populer masyarakat. Orang tidak lagi pergi ke sirkus, theater dan aphitheater,
pertunjukan, tetapi pergi ke gereja; bahkan larangan melaksanakan
kegiatan-kegiatan pagan tersebut.[51] Implikasi
peraturan ini ialah akhir dominasi pesta pagan, walaupun di berbagai tempat
kekaisaran yang jauh di Timur, misalnya Mesir, masih tetap melangsungkan
tradisi pagan, karena keterlambatan informasi dan kurang kontrol. Sesudah
pertobatan Konstantinus dan sesudah konsili di Elvira keadaan semakin berubah,
karena ada dorongan dari kaisar untuk merayakan hari Minggu;[52] dan
juga kaisar sendiri telah memberikan contoh kepada kaumnya untuk menjadi
Kristiani.
Situasi pada abad IV menjadi kebalikan situasi abad-abad sebelumnya, karena
mulai abad ini, perayaan Kristiani, yaitu hari Minggu, dan juga perayaan lain,
menjadi kewajiban bagi penduduk dan bahkan suatu hukuman bagi mereka yang tidak
melaksanakannya. Hari Minggu mengganti posisi hari Matahari; hari Minggu
menjadi hari istirahat bagi semua penduduk, termasuk hakim,[53] serdadu,
kecuali mereka yang tidak bisa menunda pekerjaan mereka, seperti petani, karena
mereka harus memburu waktu masa menanam atau menuai dan kegiatan petani lainnya
yang banyak tergantung pada musim. Di Eropa ada empat musim dan untuk bercocok
tanam, harus disesuaikan dengan musim ini. Misalnya tidak mungkin petani bisa
menanam tanaman pada musim dingin, pasti mati; musim yang cocok untuk menanam
adalah musim semi dan musim panas adalah masa panen. Oleh sebab itu, untuk
mengejar waktu ini agar tidak terlambat, maka kaum petani dibebaskan dari larangan
tersebut. Hari Minggu juga diberikan libur bagi para budak atau hamba,
pembantu. Bahkan jika ulang tahun kaisar kebetulan jatuh pada hari Minggu, maka
dirayakan pada hari berikutnya.[54] Bisa
dikatakan bahwa pada hari Minggu, semua kegiatan berhenti dan umat pergi ke
gereja untuk berdoa, merayakan kebangkitan Kristus, hari penebusan, hari
keselamatan. Pada hari ini mereka patut bersyukur karena Yesus Kristus
menganugerankan hari kegembiraan kepada mereka melalui kebangkitannya.
Kristiani patut bersyukur atas kurban Yesus ini, yang lain dari
kroban kepada dewa-dewi yang tidak membuahkan apa-apa.
Memang tidak bisa disangkal bahwa peran kaisar Konstantinus sangat besar walau
kelihatan agak dipaksakan karena mewajibkan penduduknya. Pernyataan ini bisa
kita lihat berikut ini dalam tulisan Eusebius:
“Konstantinus memerintatahkan bahwa suatu
hari hendaknya dianggap sebagai hari doa, yaitu hari yang sungguh-sungguh
penting dan lebih utama dari hari yang lain, hari Tuhan dan penebusan (hari
Minggu); bagi seluruh pembantu rumah tangga dan mereka yang mempersembahkan
diri kepada Tuhan dan para pelayan Tuhan lainnya yang dibedakan berdasarkan
bentuk hidup dan kebajikan; sementara itu para pembantu, memiliki kepekaan dan
dapat dipercayai, mengikuti kaisar mereka sebagai model bagaimana harus berjiwa
berbelas kasih, menghormati hari penebusan Tuhan dan memanjatkan doa-doa
kepada-Nya. Peraturan yang sama juga diberlakukan kepada semua orang agar
melakukan peraturan yang sama. Hari Kudus Tuhan adalah peringatan akan Tuhan.
Karena alasan inilah maka disebut dengan hari Tuhan, karena tuhan dari
hari-hari lain. Sebelum kesengsaraan Tuhan, hari tersebut belum disebut dengan
hari Tuhan, tetapi hari Pertama. Akan tetapi pada hari ini Tuhan telah
memberikan awal, melalui kebangkitan-Nya, penciptaan baru dunia dan hari
tersebut telah mempersembahkan kebangikan kepada dunia; hari ini kita merayakan
hari misteri; hari ini bagi kita adalah awal dari kebangkitan, awal dari pekan.
Satu Minggu terdiri dari tujuh hari; kita
diminta untuk bekerja selama enam hari dan hanya satu hari diminta untuk
berdoa, beristirahat dan jika selama hari kerja tersebut kita telah membuat
kesalahan, maka kita diberi kesempatan untuk membarui diri. Oleh sebab itu pada
hari Minggu pagi, hendaknya pergi ke gereja, berusahalah untuk mendekat dengan
Tuhan, mengakukan kesalahan-kesalahan kepada Tuhan, bertobatlah dan berdoalah
dengan sungguh-sungguh. Hendaknya mengambil bagian pada Tubuh dan Darah
Kristus; tetapi jika kamu merasa tidak layak karena dosa-dosa, hendaknya jangan
mengambil bagian pada-Nya sebelum mengakukannya.”[55]
Kemudian pada akhir abad keempat dinyatakan bahwa pada perayaan-perayaan suci, dilarang untuk melaksanakan pertunjukan-pertunjukan pagan.[56]
Pada abad V, praktis pesta pagan sudah
dilarang sama sekali,[57] kemudian
semua kuil di pelosok-pelosok dihancurkan, karena penduduk setempat masih tetap
mempraktikkan kultus pagan,[58] kecuali
beberapa kuil yang dialihfungsikan menjadi gereja, misalnya Patheon, di Roma;
dan akhirnya kaisar melarang semua pesta pagan.[59]
Para Bapa Gereja juga memberikan larangan-larangan pada hari
Minggu. Hironimus mengatakan bahwa hari Tuhan adalah hari kebangkitan, hari
Kristiani. Hari itu disebut dengan hari Tuhan, karena Tuhan adalah pemenang,
hari kemenangan atas maut dan dosa-dosa. Kalau orang pagan mengenal hari
Matahari, kita Kristiani juga mengenal hari yang sama, karena sesungguhnya hari
ini lahir terang dunia, lair Matahari keadilan yang merajai segala sesuatu.[60] Ia juga menambahkan
bahwa pada hari Minggu mereka yang menekuni hidup kontemplatif pada biara
tertutup, juga pergi ke gereja bersama dengan pimpinannya, kecuali mereka yang
memiliki tugas khusus, bukan karena faktor kemalasan.[61] Pada hari tersebut,
mereka memiliki kesempatan untuk menerima komuni; mereka yang menekuni hidup
kontemplatif, tidak menerima komuni sepanjang pekan.[62]
Hari Minggu adalah hari kegembiaraan
berdasarkan alasan-alasan yang telah diberikan sebelumnya. Oleh sebab itu,
berpuasa bukan merupakan karakter hari tersebut. Agustinus mengatakan bahwa
siapa yang melaksanakan puasa pada hari tersebut, sama dengan eresi Manikei,[63] yang
jelas bertentangan dengan iman dan Kitab Suci. Hari Minggu memiliki karakter
sebagai hari pesta, bukan untuk berpuasa dan berpantang, bahkan bukan untuk
bekerja; dengan demikian hari tersebut tidak ditujukan kepada orang Ibrani.[64] Bahkan
pada waktu itu sudah ada hukuman bagi mereka yang melanggar peraturan hari
Minggu, yang didahului dengan peringatan dari imam.[65] Hari
Minggu adalah juga hari yang tepat untuk melaksanakan karitas, berkunjung ke
tempat suci dan bukan untuk melaksanakan pekerjaan yang jahat, mengunjungi
mereka yang membutuhkan kunjungan, memberikan pertolongan, mengunjungi orang
sakit untuk memberikan kekuatan hidup;[66] karena
sepanjang pekan adalah hari kerja untuk mendapatkan sesuatu untuk keperluan
hidup, sehingga tidak ada waktu untuk melaksanakan hal-hal tersebut.
Ada perbedaan larangan mengenai hari Sabtu
yang dihormati orang Yahudi dengan hari Minggu. Pada hari Sabtu, untuk
menghormati hari tersebut, orang Yahudi dilarang untuk berjalan dengan kuda,
tidak boleh juga dengan lembu atau bahkan dengan kereta sekalipun, tidak boleh
mempersiapkan sesuatu untuk dimakan, bahkan tidak boleh melaksanakan pekerjaan
kebersihan rumah, tubuh dan banyak larangan-larangan lain lagi. Larangan yang
ditujukan kepada Kristiani sehubungan dengan hari Minggu, tidak sekeras yang
dilaksanakan orang Yahudi. Memang pada Sinode Aurelianense (538) telah
ditetapkan bahwa tidak boleh melaksanakan pekerjaan di ladang, di kebun anggur,
panen, menabur dan pekerjaan lain di ladang, agar umat beriman pergi ke gereja
untuk berdoa dan mempersembahkan kurban. Larangan mengenai aktivitas
pemerintahan telah ditunjukkan sebelumnya. Akan tetapi larangan ini bukan harga
mati, kalau memang sangat mendesak, maka setiap orang bisa melanggarnya demi
kebaikan sesama, bukan untuk kepentingan pribadi. Kalau umat beriman merasa
bingung, maka mereka bisa menanyakan imam mengenai penilaian moralnya.[67] Jelas
larangan-larangan ini adalah aktivitas yang kita temukan pada zaman itu, dan
tentu saja saat ini masih selalu dialami disamping berbagai aktivitas yang kita
laksanakan. Sebagai orang beriman, prinsip hari Minggu adalah tetap seperti
yang telah dikatakan sebelumnya untuk menghindari perasaan rasa bersalah,
apakah pekerjaan itu suatu dosa atau tidak. Pekerjaan adalah selalu baik
asalkan tidak mendatangkan dosa; bahkan Licinianus dari Cartago mengatakan
bahwa lebih baik bekerja daripada melaksanakan perbuatan yang mendatangkan
dosa;[68] akan
tetapi kita hendaknya jangan diperbudak pekerjaan atau menilai segala sesuatu
dari segi ekonomis, melainkan meluangkan waktu kepada Tuhan, bersyukur kepada-Nya
yang telah memberikan pekerjaan, waktu dan segala sesuatu yang kita miliki.
Kadang kita tidak sadar bahwa Tuhan menganugerahkan hidup kepada kita dan apa
yang kita miliki walaupun mungkin tidak sama jumlahnya satu dengan yang lain.
Maka hari Minggu adalah hari yang tepat untuk bersyukur dan hari permohonan.
Gereja awali, sekitar abad ke-empat, peraturan untuk komuni sudah diterapkan.
Pada dasarnya umat beriman diundang untuk menerima komuni suci setiap hari
Minggu, jangan menunda. Alasannya, komuni suci adalah “obat” untuk jiwa dan
sarana untuk menyucikan hidup di dalam Roh. Akan tetapi perlu memperhatikan
syarat-syarat untuk menerimanya. Pertama adalah sikap rendah hati, artinya
percaya akan apa yang diterimnya, dengan demikian komuni tersebut memberikan
rahmat dan nilai bagi orang yang menerimanya; atau dengan kata lain, rendah
hati dibutuhkan agar bisa memberikan manfaat bagi luka-luka atau penyakit jiwa
yang diderita. Kedua, tidak layak menerima komuni suci mereka yang memiliki
dosa berat, karena dosa tersebut merupakan penghalang imannya. Lalu bagaimana
dengan dosa-dosa lainnya yang tidak berat? Dikatakan bahwa alangkah baiknya
mereka menerima komuni suci setiap Minggu, untuk “menyembuhkan” penyakit jiwa
dengan selalu memperhatikan sikap rendah hati, dalam arti memiliki iman dan
sikap penyesalan akan kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa itu. Maka dalam hal
ini, komuni suci menjadi penguat, pendamping dan “penyembuh” jiwa.[69] Syarat-syarat
yang dilaksanakan oleh Kristiani Purba ini juga masih berlangsung sampai saat
ini untuk menerima komuni suci. Untuk tujuan kelayakan dan sikap rendah hati
ini, pengakuan sebelum perayaan misa adalah saat yang tepat.[70]
[1] Sebenarnya
ada dua tradisi mingguan, tradisi Yahudi dan Yunani-Romawi. Tradisi Yahudi
memiliki 7 hari di dalam seminggu yang dimulai dengan hari I, II, III, IV, V,
hari sebelum hari Sabtu yang dikenal dengan hari Sabat. Kemdian Kristiani yang
terpengaruh akan tradisi Yahudi ini, menyebut hari Minggu, hari kebangkitan
Yesus Kristus sebagai hari pertama; bdk. Lukas 24: 1; Yohannes 20: 1; sedangkan
Mateus dan Markus menyebutnya dengan sesudah hari Sabat; kemudian mereka
menyebutnya dengan Hari Tuhan. Tradisi lain adalah Yunani-Romawi yang
memberikan nama-nama hari dengan nama-nama planet. Lihat pembahasan sebelumnya
mengenai hari Sabtu; bdk. W. Rordrof, Settimana, di Dizionario
Patristico e di Antichità Cristiane, Diretto da Angelo di Berardino,
Genova, Marietti, 1994, hlm. 3174-3175.
[2] Hari
Matahari ini sebenarnya berasal dari Iran yang disebut dengan Mitra yang
merayakan hari keadilan dan untuk menjamin penggembalaan yang baik di tempat
domba-domba dan gembala. Kemudian sejak abad pertama, praktik keagamaan ini
berkembang di kekaisaran yang lebih menekankan peran dewa planet Matahari yang
memiliki fungsi yang sama seperti pada aslinya, yaitu pembawa damai; G. Sfameni
Gasparro, Mitra e Mitraismo, di Dizionario Patristico
e di Antichità Cristiane, Diretto da Angelo di Berardino, Genova,
Marietti, 1994, hlm. 2270-2272.
[3] CTh.
2, 8, 1; 2, 8, 20; CI. 3, 12, 2.
[4] Eusebius, Vita
Constantini, 4, 18-20.
[5] Lihat
catatakn kaki tentang ke-emapat Injil yang menginformasikan kebangkitan Yesus
Kristus, yaitu Matteus dan Yohannes menunjuk pada hari pertama dalam minggu.
[6] Kis.
20: 7-11: “Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk
memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan sarudara-saudara di situ, karena
ia bermaksud untuk berangkat pada ke-esokan harinya. Pembicaraan itu
berlangsung sampai tengah malam. Di ruang atas, dimana kami berkumpul,
dinyalakan banyak lampu. Seorang muda yang bernama Euthikus duduk di jendela.
Karena Paulus amat lama berbicara, orang muda itu tidak dapat menahan
kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah.
Ketika ia diangkat orang, ia sudah mati. Tetapi Paulus turun ke bawah. Ia
merebahkan diri ke atas orang muda itu, mendekapnya, dan berkata: “Jangan
ribut, sebab ia masih hidup.” Setelah kembali ke ruang atas, Paulus
memecah-mecahkan roti lalu makan; habis makan, masih lama lagi ia berbicara,
sampai fajar menyingsing. Kemudian ia berangkat.” Lihat Juga Yoh. 20: 19:
“Ketika hari sudah malam, pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid
Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu terkunci karena mereka takut kepada
orang-orang Yahudi.” Mereka juga berkumpul pada hari Minggu berikutnya, (Yoh.
20: 26).
[7] Luk.
24: 30, 41-43.
[8] Yustinus
Martir, Apologia, 1, 67, 7.
[9] 1
Kor. 16: 2: “Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu
masing-masing, sesuai dengan apa yang kamu peroleh, menyisihkan sesuatu dan
menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku
datang.”
[10] W.
Rordorf, Domenica, di Dizionario Patristico e di
Antichità Cristiane, Diretto da Angelo di Berardino, Genova, Marietti,
1994, hlm. 1009.
[11] Why
1:10: “Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku
suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala, katanya: "Apa yang
engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan kirimkanlah kepada ketujuh
jemaat ini: ke Efesus, ke Smirna, ke Pergamus, ke Tiatira, ke Sardis, ke
Filadelfia dan ke Laodikia.”
[12] Didachè 14,1:
“But every Lord's day
gather yourselves together, and break bread, and give thanksgiving after having
confessed your transgressions, that your sacrifice may
be pure. But let no one that is at variance with his fellow come together with
you, until they be reconciled, that your sacrifice may
not be profaned. For this is that which was spoken by the Lord: In every place
and time offer to me a pure sacrifice;
for I am a great King, says the Lord, and my name is wonderful among the
nations.”
[13] Injil
Petrus, 35:50.
[14] Historia
Ecclesiae, 4, 23, 111. Dalam buku Sejarah Gereja
ini Eusebius berusaha mencatat peristiwa-peristiwa penting di dalam Gereja yang
sangat kita butuhkan saat ini untuk mengetahui banyak informasi akan situasi
Kristiani purba.
[15] Bdk.
1 Kor. 11:20-29.
[16] Mat.
28:1; Mrk. 16:1.
[17] Mat.
28: 3-6.
[18] Walaupun
kubur kosong bukan menjadi suatu bukti kuat untuk kebangkitan, karena bisa saja
jenazah Yesus Kristus dicuri dan itulah yang dikatakan oleh orang Yahudi, lihat
Mat. 27: 62-66; 28:11-15; bdk. Isidorus Hispalensis, De Ecclesiasticis
Officiis, 1, 24, 1-2.
[19] Eusebius, De
Solemnitate Paschali, 7.
[20] Liber
Granduum, Sermo 13.
[21] Tertulianus, De
Oratinoe, 23, 2.
[22] Mulai
dari abad pertama sampai dengan permulaan abad ke-empat, Kristen berada di
dalam penganiayaan sehingga banyak kegiatan mereka, terlebih-lebih peribadatan,
dilaksanakan di bawah tanah.
[23] Constitutiones
Apostolorum, 7, 36, 6 : “On which account we
solemnly assemble to celebrate the feast of the resurrection on the Lord's day,
and rejoice on
account of Him who has conquered death, and has brought life and immortality to
light. For by Him You have brought home the Gentiles to
Yourself for a peculiar people, the true Israel beloved
of God,
and seeing God.”
[24] Lihat
Mrk. 16:2 dan pararelnya; Yoh. 20:19.
[25] Bardesanes, Liber
Legum Regionum, 46.
[26] Atanasius, De
Sabbatis et Circumcisione, 5.
[27] Kej.
1:3; bdk. Yustinus, Apologia, 1, 67, 7.
[28] Yustinus, Aplogia, 1,
67, 3.
[29] Ignasius
dari Antiokia, Epistual ad Madnesios, 9, 1; Yustinus, Dialogus, 100,4.
[30] Kodex
Yustinianus, 3, 12, 2; Kodex Teodosianus, 2,
8, 1.
[31] Bdk.
W. Rordorf, Domenica, di Dizionario
Patristico e di Antichità Cristiane, hlm.
1011.
[32] Bdk.
Ephraem Syrus, Sermo ad Nocturnum Dominicae Resurretionis, 4.
[33] Barnabas,
15: 8-9; Yustinus, Dialogus cum Tryphone Iudaeo, 41, 4; 138,
1; Ciprianus, Epistula, 64, 4; Didascalia, 6,
18, 11-16; Basilius, Spiritus Sanctus, 27,64.
[34] Yustinus, Dialogus
cum Tryphone Iudaeo, 41, 4.
[35] Ciprianus, Epistula, 64,
4.
[36] Origenes, Ex
Commentariis in Psalmos, 118 (119), 1; Atanasius, De
Sabbatis et Circumcisione, 5. Ambrosius, Epistula, 31
(44); Oratianum, 6 (4); 17 (15).
[37] Kel.
16: 5-27.
[38] Origenes, In
Exodum Homiliae, 7, 5.
[39] Bdk.
1 Ptr. 3: 18-21; 2 Ptr. 2: 5; Ambrosius, Epistula, 41, 44; 6,
4; 17, 15.
[40] Victorius
Poetouiensis, De Fabrica Mundi, 6.
[41] Clemen
dari Alexandria, Stromatei, 6, 138.
[42] Chapter
9, Thanksgiving (Eucharist): “Now concerning the Thanksgiving (Eucharist),
thus give thanks. First, concerning the cup: We thank you, our Father, for
the holy vine
of David Your servant, which You made known to
us through Jesus Your Servant; to You be the glory for
ever. And concerning the broken bread: We thank You, our Father, for the life
and knowledge which
You made known to
us through Jesus Your Servant; to You be the glory for
ever. Even as this broken bread was scattered over the hills, and was gathered
together and became one, so let Your Church be gathered together from the ends
of the earth into Your kingdom; for Yours is the glory and
the power through Jesus
Christ for ever. But let no one eat or drink of your Thanksgiving (Eucharist),
but they who have been baptized into
the name of the Lord; for concerning this also the Lord has said, Give not that
which is holy to
the dogs. Matthew 7:6.”
[43] 7,35:
“Be always thankful, as
faithful and honest servants; and concerning the eucharistical thanksgiving say
thus: We thank You, our Father, for that life which You have made known to
us by Jesus Your Son, by whom You made all things, and takest care of the whole
world; whom You have sent to become man for our salvation;
whom You have permitted to suffer and to die; whom You have raised up, and been
pleased to glorify, and hast set Him down on Your right hand; by whom You have
promised us the resurrection of the dead. O Lord Almighty, everlasting God,
gather together Your Church from the ends of the earth into Your kingdom, as
this grain was once scattered, and is now become one loaf. We also, our Father,
thank You for the precious blood of Jesus
Christ, which was shed for us and for His precious body, whereof we
celebrate this representation, as Himself appointed us, to show forth His
death. 1 Corinthians 11:26 For
through Him glory is
to be given to You for ever. Amen.
Let no one eat of these things that is not initiated; but those only who have
been baptized into
the death of the Lord. But if any one that is not initiated conceal himself,
and partake of the same, he eats eternal damnation;
because, being not of the faith of Christ,
he has partaken of such things as it is not lawful for him to partake of, to
his own punishment. But if any one is a partaker through ignorance,
instruct him quickly, and initiate him, that he may not go out and despise you.”
[44] 1
Kor. 11: 25; Didachè, 10, 1.
[45] 1
Kor. 11: 28s; Didachè, 10, 6; 14, 1-2; Tertulianus, Apologia, 39.
[46] Yustinus, Apologia, 1,
65.
[47] Yustinus, Apologia, 1,
67.
[48] Kis.
8: 38; Didachè, 7, 1.
[49] Tertulianus, Cor. 3;
Basilius, Spiritus Sanctus, 27, 67.
[50] _____, Il Cristianesimo
nelle Leggi di Roma Imperiale, a cura di Alberto Barzanò,
Torino, Paoline, 1996, hlm. 58-59.
[51] Codex
Theodosianus, 2, 8, 23; 2, 8, 20; 2, 8, 25; 15, 5, 5.
[52] Konsili
Elvira, Canon 21.
[53] Codex
Iustinianus, 3, 12, 2.
[54] Codex
Theodosianus, 2, 8, 28; 2, 8, 25.
[55] Eusebius Alexandrianus, Sermones, 1-2.
Lihat juga nomor 3-4, yang mengulangi hal-hal yang sama.
[56] Codex
Theodosianus, 2, 8, 20.
[57] Codex
Theodosianus, 16, 10, 14.
[58] Codex
Theodosianus, 16, 10, 16.
[59] Codex
Theodosianus, 16, 10, 17.
[60] Hironimus, In
die Domenica Paschae Homilia, 1, 52. Lihat juga Koncilium Matisconese,
Kan. 1 menegaskan larangan-larangan ini.
[61] Hironimus, Epistula, 20,
3; Benedictus, Regula Monasteriorum, 48, 22-23.
[62] Palladius, Historia
Lausiaca, 59, 2.
[63] Manikeisme
adalah eresi, karena menekankan pantang dan puasa secara ekstrem, yang
sebenarnya tidak hanya untuk demi kepentingan para pemimpin kelompok ini.
Mereka memang tidak amkan daging, tetapi makan alternatif lain secara
berlebihan.
[64] Agustinus, Epistula, 36,
27; 55, 23. Eusebius Alexandria, Sermo, 2-4.
[65] Koncilium
Matisconese, Kan. 1. Lihat juga Koncilium Narbonese, Kan. 4; dalam Konsili ini
dikatakan bahwa siapa yang emlanggar perathuran Hari Minggu dikenakan denda
yang kemudian digunakan untuk kepentingan Gereja. Gregorius Magnus, Epistula, 13,
3.
[66] Eusebius
Alexandria, Sermo, 5. Pseudo Petrus Alexandria, Fragmentum, hlm. 9,
12 dst. Martinus Bracarensis, De Correctione Rusticorum, 18.
[67] Concilium
Aurelianense, (538), Kan. 31, 28; Gregorius dari Tours, Historia
Rancorum, 10, 30; De Virtutibus S. Iuliani, 11; De
Virtutibus S. Martini, 3, 3.
[68] Licinianus
dari Cartago, Lettera, 2.
[69] Iohannes
Cassianus, Collationes, 23, 21.
[70] CTh. 16, 10, 17.
Komentar
Posting Komentar