PENGAJARAN TENTANG MAKNA EGO EIMI BERDASARKAN INJIL YOHANES DAN IMPLIKASINYA BAGI UMAT KRISTEN
Marthen Mau1*)
Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar Ngabang1
*)Email Correspondence: marthenluthermau@gmail.com
Abstract : Egô eimi means a firm statement made by Jesus Christ to the people that
he is the living God. Jesus is the living God, so He is not a madman and a liar
as people think. The purpose of this study is that every believer or believer
must admit that Jesus is God. The reason for the appearance of the statement in
the Gospel of John is because of the doubts of mankind about His personality
and existence. This study uses a qualitative methodology with an exegesis
approach. Qualitative research methodology is an in-depth analysis approach
using inductive reasoning analysis techniques to understand a problem
subjectively. The purpose of this research using qualitative methodology is to
narrate about of John gospel. So, this study attempts to describe what is in
accordance with the text in the Gospel of John, using exegesis studies because
the main focus is to narrate the text of God's word about the seven statements
of . The result of the research is Jesus Christ as God who has come down from
heaven like a human to save mankind.
Keywords: The meaning of egô eimi; The Gospel of John; Christians
Faith
Abstrak: Egô eimi
artinya suatu pernyataan tegas yang
dikemukakan oleh Yesus Kristus kepada
orang banyak bahwa diri-Nya adalah Allah yang hidup. Yesus adalah Allah yang
hidup, maka Dia bukan seorang gila dan pembohong seperti yang disangkakan oleh
manusia. Tujuan penelitian ini ialah setiap orang yang percaya atau beriman
harus mengakui bahwa Yesus adalah Allah. Alasan munculnya pernyataan Έγώ είμι
dalam Injil Yohanes karena adanya keragu-raguan dari umat manusia terhadap
kepribadian dan eksistensi-Nya. Penelitian ini menggunakan metodologi
kualitatif dengan pendekatan eksegesis. Metodologi penelitian kualitatif
merupakan suatu pendekatan analisis mendalam dengan memakai teknik analisis
penalaran induktif untuk memahami suatu masalah secara subyektif. Tujuan
penelitian menggunakan metodologi kualitatif ialah untuk menarasikan mengenai
Ἐγώ είμι dari Injil Yohanes. Jadi, penelitian ini berupaya untuk mendeskripsikan apa adanya sesuai dengan
teks di dalam Injil Yohanes, dengan menggunakan studi eksegesis karena fokus
utama adalah menarasikan teks firman Tuhan tentang ketujuh pernyataan Ἐγώ είμι.
Hasil penelitian ialah Yesus Kristus sebagai Allah
yang telah turun dari surga menyerupai seperti manusia untuk
menyelamatkan umat manusia.
Kata Kunci: Makna egô eimi; Injil Yohanes; Iman Kristen.
PENDAHULUAN
Pengajaran tentang egô eimi (Yun.
Ἐγώ είκη) adalah pernyataan tegas Yesus Kristus dalam Injil Yohanes yang
menunjukkan bahwa diri Yesus sebagai Allah
yang hidup, yang sama derajatnya dengan Allah Bapa. Di dalam Injil
Yohanes istilah Ἐγώ (egô) yang
bertalian dengan promina persona kasus nominatif atau subjek disebutkan sebanyak 132 kali, sedangkan είκη (eimi) di dalam Injil Yohanes disebutkan
sebanyak 430 kali. Dasar munculnya istilah egô
eimi dalam Injil Yohanes karena adanya keragu-raguan terhadap pribadi dan
eksistensi Yesus Kristus. Karena itu, pernyataan egô eimi oleh Yesus Kristus untuk memberikan pernyataan secara
tegas kesempurnaan-Nya. Pernyataan egô
eimi dalam Injil dapat ditemukan
dalam Yohanes 6: 35 (Akulah roti hidup), Yohanes 8: 12
(Akulah terang dunia), Yohanes 10: 7, 9 (Akulah pintu), Yohanes 10: 11
(Akulah gembala yang baik), Yohanes 11: 25-26 (Akulah kebangkitan dan hidup),
Yohanes 14: 6 (Akulah jalan dan kebenaran dan hidup), dan Yohanes 15: 1, 5
(Akulah Pokok Anggur yang benar).
Pernyataan Yesus tentang egô eimi merupakan pernyataan sakral Yesus Kristus. Pada prinsipnya
Injil Yohanes berbeda pemikiran dengan Injil sinoptik (Matius, Markus dan
Lukas). Injil Yohanes tidak menceritakan mengenai kelahiran Yesus, sedangkan
Injil Sinoptik memulai narasi dari genalogi Yesus Kristus. Tujuan utama
penulisan Injil Yohanes ialah supaya setiap orang mengaku dan meyakini bahwa
Kristus Yesus sebagai Mesias, Anak Allah Mahatinggi dan melalui Yesus dapat
memeroleh hidup kekal (Yoh. 20: 31). Oleh karena itu Injil Yohanes adalah kitab
yang khusus membicarakan eksistensi dan karya Yesus Kristus.1 Selain
itu juga Injil Yohanes menjadi dasar dalam menghadapi pengajaran gnostik.2
Selain itu ada yang berpendapat bahwa tujuan penulisan Injil
![]()
1 Leon Morris, Teologi Perjanjian Baru (Malang: Gandum Mas, 2014), 311.
2 F. Evertt Harrison, John
The Gospel of Faith (Chicago:
Moody Press, 1962), 10.
Yohanes untuk melawan Yudaisme yang diajarkan di sinagoge dan melengkapi
Injil Sinoptik.3
Pernyataan egô
eimi oleh Yesus bagi orang Yahudi menunjukkan bahwa Yesus adalah orang gila
dan pembohong.4 Bahkan pada saat ini ada banyak orang yang
menyetujui bahwa Yesus adalah Allah seperti dikutip oleh Clive Staples Lewis
yang menerima Yesus sebagai guru moral yang agung, tetapi tidak percaya bahwa
Yesus adalah Allah.5 Menanggapi hal tersebut maka perlu memahami
pernyataan egô eimi dalam Injil
Yohanes sebagai pernyataan sikap Yesus untuk menunjukkan sifat ke-Allah-an-Nya
kepada manusia.
METODE
Penulis menggunakan metodologi penelitian kualitatif,6
dengan pendekatan eksegesis. Metode kualitatif merupakan suatu pendekatan
analisis mendalam dengan memakai teknik analisis penalaran induktif untuk
memahami suatu masalah secara subyektif.7 Menggunakan metodologi
kualitatif bertujuan untuk menarasikan ungkapan
egô eimi dalam Yohanes
6: 35, 8: 12, 10: 7-9, 10:
11, 11: 25-26, 14: 6 dan 15:1-5 serta
mendeskripsikan konsep egô eimi sesuai
dengan teks di dalam Injil Yohanes. Penggunaan pendekatan studi eksegesis
karena fokus utama adalah menarasikan teks firman Tuhan tentang ketujuh
pernyataan egô eimi secara khusus
dalam studi kata dan makna dalam konteks ayat-ayat tentang egô eimi.
3 Edwin A Blum, “John.
The Bible Knowledge Commentary” (Wheaton, IL: Victor Books,
1985), 10.
4 Daniel Nugroho,
“Mengulas Lengkap Siapa Pribadi Yesus,” www.danielnugroho.com, Faith, 9 Januari 2021, https://www.danielnugroho.com/faith/mengulas-lengkap-siapa-pribadi-yesus/.
5 Nugroho.
6 Sonny Eli Zaluchu,
“Strategi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif Di Dalam Penelitian Agama,” Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat
4, no. 1 (2020): 28–38,
https://doi.org/10.46445/ejti.v4i1.167.
7 Arif Yupiter Gulo,
“Cerdik seperti Ular dan Tulus
seperti Merpati: Berdasarkan Matius 10:16b,”
Manna Rafflesia 7, no. 1 (31
Oktober 2020): 118, https://doi.org/10.38091/man_raf.v7i1.129.
HASIL
Pernyataan egô
eimi sesungguhnya memiliki makna bahwa Yesus sedang menunjukkan eksistensi
sebagai Manusia dan Allah sejati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Yesus
adalah Tuhan dan Juruselamat bukan seorang gila dan pembohong. Makna pernyataan
egô eimi menunjukkan bahwa setiap
manusia yang sungguh-sungguh percaya dan menerima Yesus sebagai satu-satunya
jalan keselamatan memperoleh hidup kekal di dalam Kerajaan Surga yang abadi.
Selanjutnya hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Yesus hadir ke dalam dunia
untuk memproklamirkan berita kedatangan Kerajaan Allah (Mrk. 1: 14-15) dan
berita yang diproklamirkan adalah kebenaran. Hasil penelitian mengenai egô eimi menunjuk pada proklamasi Yesus
adalah kebenaran. Yesus mengajarkan dan memproklamirkan kebenaran sebab Yesus
sebagai pintu masuk ke dalamnya, karena Yesus adalah kebenaran itu.
PEMBAHASAN
Pemahaman konsep egô
eimi dijelaskan dalam beberapa perkataan Yesus dalam Injil Yohanes, yaitu:
Akulah roti hidup (Yoh. 6: 35), Akulah terang dunia (Yoh. 8: 12), Akulah Pintu
(Yoh. 10: 7, 9), Akulah gembala yang baik (Yoh. 10: 11), Akulah kebangkitan dan
hidup (Yoh. 11: 25-26), Akulah jalan dan kebenaran dan hidup (Yoh. 14: 6) dan
Akulah Pokok Anggur yang benar (Yoh. 15: 1, 5).
Akulah Roti Hidup (Yoh. 6: 35)
Frasa ‖Akulah roti hidup‖ dalam
bahasa Yunani Ἐγώ
είκη ό ἂρηος ηής δφῇς,
(egô eimi ho artos tēs zōēs).
Frasa tersebut menunjukkan bahwa Yesus menyebutkan diri-Nya sebagai makanan
yang memberi hidup.
Kata roti dalam
bahasa Yunani ἂρηος yang berarti roti; makanan.8 Ungkapan roti
dalam teks Yohanes 6: 35 menggunakan
kata sandang ό ἂρηος (ho artos) yang menunjukkan bahwa kata ‗roti‘ di dalam teks
tersebut bukan roti buatan manusia yang dijual- jual di pasar melainkan
roti hidup (Yun.
ό ἂρηος ηής δφῇς / ho artos tēs zōēs). Jadi Yesus
menyebutkan diri-Nya sebagai roti yang memberi kepuasan kepada orang percaya.
Guthrie dkk. menarasikan bahwa roti hidup merupakan ungkapan perumpamaan yang
berarti Yesus memberi hidup kepada orang-orang percaya yang menyerahkan dirinya
pada Yesus Kristus sebagai Juruselamat dunia.9 Tuhan Yesus Kristus
memberikan hidup kekal kepada manusia ketika manusia percaya sungguh-sungguh kepada-Nya.
![]()
Pernyataan ‗hidup‘ dari kata Yunani δφῇς, (zōēs)
menggunakan kata benda kasus genetif, yang artinya hidup (jasmaniah), hidup
(baru), hidup (kebangkitan) dan hidup (kekal).10 Pemahaman δφῇς, (zōēs) di dalam teks Yohanes 6: 35
menunjuk pada hidup kekal bukan hidup secara jasmaniah. Jadi, hidup kekal
diberikan oleh Yesus karena mampu menghidupkan umat manusia ketika sungguh-sungguh
percaya kepada-Nya. Selanjutnya
frasa ―barangsiapa datang
kepada-Ku,‖ dalam bahasa Yunani ό έρχόμενος
πρός έκέ, (ho erchomenos pros me). Kata έρτόκελος (erchomenos) menggunakan kata kerja kasus nominatif singular
maskulin, dari kata ἔρτοκαη (erchomai) yang berarti datang, tiba, pergi, pergi
bersama, sampai, berjalan, menjadi, mendatangkan, membawa, akan datang dan
muncul. Kata tersebut diikuti oleh kata sandang ό (ho) dan kata depan (preposition)
kepada-Ku (pros me), maka dapat
diartikan sebagai orang yang
8 Hasan
Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi (PBIK) Jilid II, vol. 2 (Jakarta: LAI, 2014), 109.
9 Guthrie, Motyer,
dan Stibbs, Tafsiran Alkitab
Masa Kini 3 Matius-Wahyu (Jakarta: Yayasan Bina KAsih/OMF, 2001), 287.
10Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear
Yunani-Indonesia dan Konkordansi (PBIK) Jilid II, 2:120.
datang kepada
Yesus.
Frasa ―ia tidak akan
lapar lagi,‖ dalam bahasa Yunani
ού κή πεηλάζε (ou me peinase). Frasa ού
κή (ou me) artinya pasti tidak11
dan kata ‘lapar‘ dari kata πεηλάζε (peinase)
menggunakan kata kerja dengan kasus aorist
aktif orang ketiga tunggal, dari kata dasar πεηλάφ (peinaο) artinya merasa lapar.12 Dengan demikian kata
tersebut memiliki makna tindakan yang telah terjadi secara terus-menerus ketika
dialami seseorang. Jika diartikan bersama kata ού κή (ou me) maka frasa ―ia tidak
akan
lapar lagi,‖ berarti pada
waktu
dulu ia pasti tidak merasa lapar secara terus-menerus ketika
datang kepada Yesus Kristus.
Frasa ‖barangsiapa percaya
kepada-Ku,‖ dalam bahasa
Yunani ό πηζηεύφλ
είς έκέ
(ho pisteuOn eis eme).
Kata ‘percaya,‘
dalam bahasa
Yunani πηζηεύφλ (pisteuon) menggunakan kata kerja present aktif kasus nominatif singular
maskulin dari kata πηζηεύφ (pisteuo)
artinya percaya, mempunyai iman kuat, yakin dan mempercayakan.13
Pernyataan ini menunjukkan bahwa orang yang percaya kepada Yesus harus kuat
atau teguh pendiriannya bahkan pada waktu sekarang harus terus-menerus percaya
kepada Yesus Kristus. Laia menuliskan kata ‘percaya‗ merujuk pada sebuah
keyakinan yang tahan dalam pencobaan, penderitaan, pengujian, tidak hanya
percaya tetapi sungguh-sungguh percaya kepada Allah di dalam Yesus Kristus
tanpa dibutuhkan bukti-bukti real seperti Abraham.14 Selanjutnya
frasa ‖ia tidak akan haus lagi,‖ dalam bahasa Yunani ού κή δηυήζεη πώποηε
(ou me dipsese popote). Kata δηυήζεη
(dipsese) menggunakan kata kerja aorist aktif singular
maskulin dari kata δηυάφ (dipsao) yang berarti
![]()
11 Hasan
Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear
Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru (PBIK) Jilid I, vol. 1 (Jakarta: LAI, 2010), 514.
12 Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia
dan Konkordansi (PBIK) Jilid II, 2:586.
13 Sutanto, 2:599.
14 Kejar Hidup
Laia, “Makna Injil
Berdasarkan Roma 1: 16-17 Dan Implementasinya Bagi
Gereja Masa Kini,” Manna Rafflesia 7, no. 1 (2020):
1–21, https://doi.org/10.38091/man_raf.v7i1.133.
merasa haus akan minuman.15 Oleh karena kata δηυήζεη (dipsese) diawali dengan kata ού κή (ou me) dan diakhiri dengan kata πώποηε (popote) maka pernyataan di dalam teks
Yohanes 6: 35 dapat diartikan bahwa pada waktu dulu orang pasti tidak akan
terus-menerus merasa haus lagi ketika ia percaya kepada Yesus Kristus.
Berdasarkan penjelasan tersebut Yesus terus-menerus berkata kepada para murid sebagai
pemberi dan pemelihara kehidupan umat-Nya (bdk. Yoh. 6: 53),16
bahkan siapa yang datang kepada Yesus pasti dijamin kepuasannya dari kelaparan
dan kehausan secara batiniah. Setiap orang yang datang kepada Yesus pasti
menerima kebahagiaan batiniah (bdk. Mat. 5: 6). Secara prinsip Yesus Kristus
menjamin dengan sempurna untuk memberikan kehidupan kekal di dalam Kerajaan
Surga bagi orang-orang yang terus-menerus menyembah pada Yesus Kristus.
Akulah terang dunia (Yoh. 8: 12)
Frasa ‖Akulah terang dunia,‖ dalam bahasa Yunani Έγώ
είκη ηό ϕώς (egô eimi to phos). Kata ϕώς (phos)
menggunakan kata benda kasus nominatif artinya
terang, suluh, pelita dan api unggun.17 Karena kata ϕώς (phos) menggunakan kata benda kasus nominatif, maka dapat
diartikan Yesus adalah terang. Kata ‘dunia‘ dari kata θόζκοσ (kosmou) menggunakan kata benda kasus genetif dari kata θόζκος (kosmos) yang menunjuk pada orang
percaya.18 Frasa Έγώ είκη ηό ϕώς
(egô eimi to phos)
dapat dipahami bahwa Yesus adalah terang bagi manusia atau
![]()
15 Sutanto, Perjanjian
Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi (PBIK) Jilid II, 2:504.
16 Donald C. Stamps, Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan (Jakarta: Lembaga
Alkitab Indonesia, 2008),
1713.
17 Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear
Yunani-Indonesia dan Konkordansi (PBIK) Jilid II, 2:755.
18 Liha juga makna
lain dari kata
„κόζμος (kosmou)‟ alam semesta, bumi, penduduk bumi,
manusia dan malaikat, masyarakat, segala yang ada di bumi, atau orang yang percaya.
Dunia juga dapat menunjuk
musuh Allah, masyarakat yang sekular,
sistem yang jahat,
kesenangan duniawi, harta di dunia,
kekuatiran dan penderitaan di dunia
(Lih. Sutanto, 2:458.).
orang percaya yang hidup di dalam dunia. Yesus menegaskan bahwa diri-Nya
sebagai Terang, Sumber Terang, dan Terang yang menciptakan dunia (Yoh. 1: 4-
10).19 Yesus sebagai sumber terang bagi dunia sebab Dia terlebih
dahulu hidup dari Abraham (bdk. Yoh. 8: 5). Jadi kegelapan dapat dinetralisir
oleh cahaya terang dan secara figuratif terang Kristus menerangi kegelapan
dunia yang disebabkan oleh kekuatan dosa.
Yesus Kristus memiliki kuasa yang tidak terbatas untuk
menerangi manusia. Karena itu, siapa saja yang mengiringi Kristus Yesus tentu
akan hidup di dalam terang Kristus yang ajaib. Stamps menjelaskan Yesus sebagai
terang yang memberi hidup (Yoh. 1: 9), sehingga berkuasa untuk menolong setiap
orang untuk keluar dari belenggu
dosa.20 Frasa
―barangsiapa
mengikut Aku,‖ dalam bahasa Yunani
ό άθοιοσζώλ έμοί (ho akolouthon emoi) memiliki makna yang
artinya pada waktu sekarang orang yang mengikuti Yesus secara terus-menerus
dapat memeroleh terang yang memberi hidup kekal.21 Jadi Yesus adalah
sang Penerang dalam kegelapan, Pemberi terang bagi setiap orang yang berada
dalam kegelapan, dan hidup kekal bagi setiap orang yang mengikut Yesus secara
terus-menerus setelah meninggalkan kegelapan dosa. Brickner menuliskan
pernyataan ‖Akulah terang dunia‖
merupakan salah satu bukti bahwa Yesus menyatakan diri sebagai Allah yang memberi hidup kekal (Yun. zoes) kepada setiap orang yang meninggalkan kegelapan dosa (Yun. skotia).22 Berdasarkan ulasan
di atas dapat dikonklusikan bahwa Yesus sebagai terang
bagi manusia di dunia yang hidup di
19 Deflit Dujerslaim
Lilo, “Presuposisi dan Metode Yesus dalam Menyampaikan Pendapat: Sebuah Pedoman bagi Para Akademisi,” BIA’: Jurnal
Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual 2, no. 1 (26 Juni
2019): 121, https://doi.org/10.34307/b.v2i1.86.
20 Stamps, Alkitab
Penuntun Hidup Berkelimpahan, 1718.
21 Kata άκολοςθών (akolouthon) menggunakan kata kerja present
active nominative singular masculine (Lih.
Sutanto, Perjanjian
Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru (PBIK) Jilid
I, 1:755.)
22 David
Brickner, Christ
in the Feast of Tabernacles (Chicago, Illinois: Moody
Publishers, 2006), 156.
dalam dosa. Setiap orang yang sudah yakin menerima hidup kekal harus siap
diutus oleh Kristus untuk membawa terang bagi manusia yang masih tinggal di
dalam kegelapan dosa (Mat. 5: 14).
Akulah Pintu (Yoh. 10: 7, 9)
Pernyataan Yesus ‖Akulah pintu‖ dalam bahasa Yunani
έγώ είκη ή ζύρα (ego eimi he thura) yang berarti Yesus
adalah pintu. Kata ζύρα (thura)
menggunakan kata benda kasus nominatif singular feminin yang artinya kata benda
subjek yang bersifat kelembutan. Jadi, έγώ είκη ή ζύρα (ego eimi he thura) yang artinya Yesus adalah pintu itu ke
domba-domba atau untuk domba-domba (ηώλ προβάηφλ (ton probaton). Pernyataan ‖Akulah pintu ke domba-domba itu‖ merupakan
pernyataan perumpamaan. Akulah pintu (Yun. έγώ είκη ή ζύρα / ego eimi he thura) merupakan perumpamaan
yang menjadi kebiasaan di timur tengah bahwa kandang domba berupa tanah
berpagar kecil untuk melindungi kawanan pada waktu malam hari dari binatang
buas atau sebuah bangunan rendah yang terbuka ke arah halaman dan hanya ada
satu pintu masuk, gembala duduk di dekat pintu
masuk, sehingga bisa
menjadi ‖gembala‖ dan
‖pintu.‖23 Pertemuan gembala
dan domba hanya melalui satu pintu karena gembala telah menunggu di
pintu masuk ke kandang.
![]()
Penjelasan selanjutnya pada frasa ‖Aku berkata‖ pada ayat ke 7 dalam bahasa
Yunani ιέγφ (lego) yang artinya
berkata.24 Kata ιέγφ artinya saya berkata secara terus-menerus. Pada
konteks ayat tersebut menunjukan kepada Yesus yang
23 Candra Gunawan Marisi,
“Analisis Teologis Mengenai
Tugas Dan Tanggungjawab Gembala Yang Baik Menurut Yohanes
10: 1--18 Dan
Penerapannya Bagi Gembala
Masa Kini,” Real Didache
Jurnal Teologi dan
Pendidikan Agama Kristen 4, no. 2 (2019): 46.
24 Lihat arti lain dari λέγω (lego) yaitu mengucapkan, menceritakan, mengungkapkan (secara
lisan atau tertulis), dimaksudkan, sebagai berikut, berpesan, menanyakan, menjawab, memerintah, menegaskan, menyatakan, memberitakan, memberitahukan,
melaporkan, memanggil, menyebut dan berarti (Sutanto, Perjanjian
Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi (PBIK) Jilid II, 2:452.)
berkata secara terus-menerus. Selanjutnya kata ganti orang ‘kamu‘ yang
dipakai di dalam
ayat 7 dalam
bahasa
Yunani ύκῖλ (mein) kata
ini
merujuk kepada
para murid Yesus Kristus. Selanjutnya ‖Aku
berkata kepada kamu‖ dari frasa ιέγφ ύκῖλ (lego umin) hal tersebut menunjuk bahwa Yesus berkata secara terus- menerus kepada para rasul.25
Pendapat tersebut dapat diartikan sebagai sebuah kepastian bagi yang datang
melalui Yesus, jiwa diselamatkan pada masa mendatang. Jadi, kata ‗masuk‘ dan ‗keluar‘ merupakan dua kata kerja yang
sangat penting, Sumiwi melukiskan
dua
kata kerja
―masuk‖
dan ―keluar‖ merupakan
aktivitas dari domba-domba pada setiap harinya.26 Pernyataan
menemukan padang rumput berarti
domba-domba mencari makanan di padang rumput yang hijau sebab tanpa menemukan
rumput, maka domba-domba pasti mengalami kelaparan. Tuhan Yesus
mengilustrasikan diri-Nya sebagai ‗pintu‘ karena itu, setiap orang yang masuk
melalui Yesus akan mengalami pertumbuhan rohani yang tidak akan pernah layu sebab Dialah satu-satunya pintu bagi domba-
![]()
25 Kata είζέλθη (eiselthe) ditulis dalam bentuk aorist dari kata είζέπσομαι (eiserkhomai) memiliki arti datang atau pergi. Frasa ‟ia akan selamat‟ dalam
bahasa Yunani ζωθήζεηαι
(sothesetai) menggunakan kata kerja indikatif future
pasif orang ke-3 tunggal dari kata ζθζω
(sozo) yang berarti
menyelamatkan dan menyembuhkan (Hasan Sutanto,
Perjanjian Baru Interlinear dan Konkordansi Jilid 2 (Jakarta: Lembaga Alkitab
Indonesia, 2014), 236.). Selanjutnya frasa ‟masuk melalui Aku,‟ dalam bahasa
Yunani είζέλθη δι έμοῦ (eiselthe di emou). pada waktu dulu ada orang datang
melalui (preposition) Aku (έμοῦ / emou / Yesus) (Lih. Sutanto, 694.). Selanjutnya frasa ‟masuk melalui Aku,‟ dalam bahasa
Yunani είζέλθη δι έμοῦ (eiselthe di emou). pada waktu dulu ada orang datang
melalui (preposition) Aku (έμοῦ / emou / Yesus)
(Lih. Sutanto, 694.). Selanjutnya frasa ‟masuk melalui
Aku,‟ dalam bahasa
Yunani είζέλθη δι έμοῦ (eiselthe di emou). pada waktu dulu ada orang datang melalui (preposition) Aku (έμοῦ / emou / Yesus) (Lih.
Sutanto, 694.). Selanjutnya frasa ‟masuk melalui Aku,‟ dalam bahasa Yunani είζέλθη
δι έμοῦ (eiselthe di emou). pada waktu dulu ada
orang datang melalui
(preposition) Aku (έμοῦ / emou / Yesus)
(Lih. Sutanto, 694.)
26 Frasa „ia akan
masuk,‟ είζελεύζεηαι (eiseleusetai) menggunakan kata
kerja indikatif future orang
ke-3 tunggal dari kata Yunani
είζέπσομαι (eiserkhomai) memiliki arti masuk ke dalam atau pergi ke dalam
(Lih.Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan
Konkordansi (PBIK) Jilid II, 2:236.). Kata είζελεύζεηαι, (eiseleusetai)
mengandung unsur perintah yang terus-menerus dilakukan dengan sungguh- sungguh oleh orang pada masa mendatang. Frasa „ia akan keluar,‟ έξελεύζεηαι (exeleusetai) menggunakan kata kerja indikatif
future orang ke-3 tunggal dari kata έξέπσομαι (ekserkhomai) yang berarti pergi
ke luar (Lih.Sutanto, 2:270.). Asih Rachmani Endang
Sumiwi, “Gembala Sidang
Yang Baik menurut
Yohanes 10:1- 18,” HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen 4, no. 2 (2020): 74–93,
https://doi.org/10.52104/harvester.v4i2.16.
domba.27 Dari penjelasan di atas dapat diformulasikan bahwa
Yesus berkata secara terus-menerus kepada para murid-Nya tentang mengumpamakan
diri-Nya sebagai pintu untuk orang-orang yang datang melalui Dia. Karena
jikalau ada orang yang datang melalui Dia, maka dia pasti diselamatkan dan
Yesus Kristus akan memelihara hidupnya di dunia hingga menuju kehidupan surga
yang abadi.
Akulah gembala yang baik (Yoh. 10: 11)
Sebuah pernyataan Kristus yang sangat tepat untuk
mematahkan gembala palsu ketika mengajarkan pengajaran palsu
yakni ―Akulah gembala yang
baik,‖ dari frasa Έγώ είκη ὁ ποηκὴλ ὁ θαιός (ego eimi ho poimen
ho kalos).28 Pernyataan Aku
adalah Gembala yang baik berarti Yesus memiliki kualitas moral yang
menguntungkan atau berguna bagi domba-domba-Nya bahkan Yesus membedakan
diri-Nya dengan para gembala palsu. Murray menyatakan bahwa kata θαιος, kalos yang berarti otentik, unik, satu-satunya,
atau benar.29 Frasa gembala yang baik dapat diartikan bahwa Yesus
sebagai gembala yang benar sehingga perlu menjadi teladan. Yesus sebagai
Gembala yang benar, sehingga mengajarkan pengajaran yang benar kepada para
pengikut-Nya. Oleh karena Yesus sebagai gembala yang benar, maka pasti Yesus
menuntun setiap orang yang
![]()
27 Frasa „menemukan
padang rumput‟ dari frasa εύπήζει νομήν. Kata εύπήζει (heurEsei) menggunakan kata kerja indikatif future orang ke-3 tunggal yang diartikan akan menemukan (Lih.Sutanto, Perjanjian Baru
Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi (PBIK) Jilid II, 2:546.). Kata ini dari kata εύπίζκω (heurisko)
yang artinya menemukan; menemui; bertemu; beroleh; mengetahui; mengalami
(Lih.Sutanto, 2:309.). Jadi,
kata εύπήζει, (heuresei) berarti suatu perintah yang sudah pernah
dilakukan tetapi secara terus-menerus dilakukan pada masa mendatang.
Kata νομήν (nomen) berarti padang
rumput/makanan (Lih.Sutanto, 2:546.). Kata νομήν (nomen) menggunakan kata
benda akusatif tunggal feminin, yang artinya suatu objek yang sifatnya lembut.
Karena itu, kata νομήν (nomen) dari kata νομή
(nome) yang artinya
padang rumput; makanan
(ternak) (Lih.Sutanto, 2:504.). Sumiwi, “Gembala Sidang
Yang Baik menurut Yohanes 10:1-18.”
28 Kata „baik‟
dari kata καλορ menggunakan kata sifat, maka kata ini dalam pengertian moral, kualitas, yang
menguntungkan, yang menyenangkan, yang berguna, atau cocok (Lih.Sutanto, Perjanjian
Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi (PBIK)
Jilid II, 2:398.)
29 G. R. Beasley
Murray, John Volume 36 (Dallas, Texas:
Word Books, Publisher, 2002), 170.
percaya kepada-Nya.30 Dalam teks Yohanes 10: 11 menjelaskan
bahwa Yesus dapat membedakan diri-Nya dengan gembala upahan. Yesus bukanlah
seorang gembala upahan karena tujuan kedatangan-Nya ke dalam dunia demi
memberikan hidup-Nya bagi umat manusia supaya mereka memiliki hidup yang abadi
di dalam Kerajaan-Nya yang abadi.
Akulah Kebangkitan Dan Hidup (Yoh. 11: 25-26)
Sebuah pernyataan yang meyakinkan bagi khalayak ramai,
termasuk kepada Maria dan Marta saudara Lasarus; saat Yesus hendak
membangkitkan Lazarus ialah ―Akulah kebangkitan dan hidup.‖ Kata
kebangkitan menurut Perjanjian Baru
merupakan pengajaran Firman Tuhan karena tanpa kebangkitan Yesus, maka tidak akan ada kebangunan rohani. Jadi
kebangkitan Tuhan Yesus merupakan konfirmasi sentral di dalam firman Tuhan agar
setiap orang yang percaya kepada- Nya beroleh kehidupan yang kekal.31
Kehidupan kekal yang dapat dipahami dalam bagian ini adalah kehidupan kehidupan
kekal yang tidak akan hilang dan tidak akan mengalami kematian selama-lamanya.32
Pada hakikatnya manusia dapat diikat oleh kuasa dosa
dan tidak berkemampuan untuk melawan kuasa dosa dengan kekuatannya sendiri,
sehingga
![]()
30 Sumiwi, “Gembala
Sidang Yang Baik menurut Yohanes 10:1-18.”
31 Polikarpus Ka‟pan,
“Kebangkitan Yesus Kristus
Dasar Iman Kristen,” Jurnal Jaffray 5, no. 1 (2007): 7, https://doi.org/10.25278/jj71.v5i1.121. Kata „kebangkitan‟ dari kata άνάζηαζιρ, anastasis yang berarti bangunnya berarti peningkatan status atau peningkatan
kondisi seseorang; kebangkitan (dari mati). Kata άνάζηαζιρ (anastasis)
dari kata kerja anistemi yang
berarti bangkit atau kata egeiro yang berarti bangun. (Lih.Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan
Konkordansi (PBIK) Jilid II, 2:602.)
32 Kata „hidup‟ dalam
frasa ini berarti menikmati keselamatan Tuhan atau hidup yang dapat dimengerti pada bagian ini bertalian
erat dengan percaya
dan mengandalkan kepada Tuhan. Kata „hidup‟
Yunani ζωή (zoe) sama pemahaman
dengan Yohanes 6:35; 14:6, sedangkan kata „hidup‟ di dalam frasa berikutnya pada teks ini ζήζεηαι
(zhesetai) merupakan kata kerja indikative future orang ketiga
tunggal dari kata ζάω, zao. Kata ζήζεηαι,
zhesetai menunjukkan tindakan yang terjadi pada masa kini, namun lebih cenderung berlaku untuk masa
mendatang. Pemakaian kata
ζήζεηαι (zhesetai) secara indikatif future
dapat merujuk pada hidup yang berlaku
untuk saat ini, tetapi berlaku
juga untuk hidup pada masa mendatang yang dinyatakan oleh Yesus Kristus melalui
kehidupan yang kekal. Kata ζω (zo) muncul sebanyak 140
kali dan dipakai lebih dahulu
dalam kehidupan orang Kristen salah satu sebagai
ciri keselamatan. (Lih. Laia, “Makna Injil Berdasarkan Roma 1: 16-17 Dan Implementasinya Bagi Gereja Masa Kini.”)
kematian dan kebangkitan Yesus menunjukkan bahwa Yesus lebih kuat dan
lebih unggul untuk menang dari alam maut. Apabila setiap orang mengalami
pembaruan hidup, maka pasti membenci dosa. Ka‘pan menyatakan bahwa kebangkitan
Yesus dapat dimengerti beberapa hal: Pertama,
kebangkitan Yesus Kristus sebagai bukti mengalahkan setan dan Yesus
memastikan kepastian untuk semangat dalam berkarya bagi-Nya; Kedua, kehidupan Yesus berarti setiap
orang percaya dapat memulai hidup baru melalui persekutuan dengan Yesus secara
terus-menerus; Ketiga, kehidupan
Yesus dapat memberi harapan baru bagi setiap orang percaya untuk hidup bahagia
bersama di Kerajaan-Nya yang abadi.33
Kehidupan Yesus dari mengalahkan maut dapat dilukiskan
bahwa Yesus bangun dari antara orang mati, sehingga dapat menumbuhkan iman atau
kepercayaan di dalam Dia sebab apabila Kristus tidak bangkit dari alam maut,
maka sia-sialah kepercayaan umat manusia (bdk. l Kor. 15:17,18, 26).34
Kehidupan Yesus sangat bermakna bagi orang-orang yang percaya dan yang menerima
kepada-Nya. Berdasarkan pemamaran di atas dapat simpulkan bahwa Yesus sebagai
sumber kehidupan dan sumber utama untuk kebangkitan orang percaya.
Akulah Jalan Dan Kebenaran Dan Hidup (Yoh. 14: 6)
Pernyataan ―Aku adalah
jalan dan
kebenaran
dan hidup,‖
terdiri atas
tiga pemahaman yang sangat utama, yakni: Pertama, Akulah jalan dari kata Yunani
εγφ εηκη ή όδός (ego eimi he hodos). Pemberitaan Kristus Yesus kepada para
rasul-Nya yakni ‗Akulah jalan,‘ bukan suatu ungkapan yang baru di pendengaran
para murid, karena fondasinya telah tertulis dalam Perjanjian Lama. Kata ‗jalan‘
![]()
33 Ka‟pan, “Kebangkitan
Yesus Kristus Dasar Iman Kristen.”
34 Harun Hadiwijono, Iman Kristen (Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2007), 340.
dalam Perjanjian Lama bertalian dengan Taurat (Torah), yakni bertalian dengan perintah, instruksi dan hukuman
Allah (Ul. 4-6).35
Torah sebagai
hukum Allah dalam Perjanjian Lama terdiri atas dua bagian besar. Pertama, Torah dari aliran Priest (Imam), sebab di dalam Kitab
Imamat menyatakan tentang Torah Allah,
yang bertalian dengan ritual ibadat atau spiritual. Sebagai contohnya ialah Torah persembahan bakaran (Im. 6: 2, 7,
18), Torah persembahan kesejahteraan
(Im. 7: 1, 11), Torah persalinan
perempuan (Im. 12: 7), Torah tentang
penyakit kusta (Im. 13: 9; 14: 2, 32, 54), Torah tentang
kecemburuan (Bil. 5: 29) dan Torah bagi
orang bernazar (Bil. 6: 13, 21). Kedua,
Torah dalam kitab Ulangan. Torah ini adalah perintah, instruksi, atau hukum
Allah secara khusus mengenai hukum sosial masyarakat. Torah ini bertujuan untuk
menolong manusia dari penindasan yang dilakukan oleh sesamanya atau oleh sistem
yang ada. Sebagai contohnya ialah hukum tentang budak (Ul. 15: 12- 18, Kel. 21:
1-11), hukum tentang penculikan orang yang akan dijadikan budak (Kel. 21: 16,
Ul. 23: 7), hukum tentang kreditur yang tidak boleh berbuat semena- mena dengan
bunga yang tinggi (Kel. 22: 25-26; Ul. 24: 6, 17), hukum lex talionis, yang merupakan hukum keadilan dalam konteks
pengadilan, yakni tidak boleh bersaksi palsu (Ul. 10: 19, 14: 21 dan 29, 16: 11
dan 14, 24: 17, 19 dan 20).36 Dengan demikian, hukum Torah ini merupakan perintah Allah yang
benar, suci, dan kudus. Hukum Torah ini
disebut sebagai firman Allah dan Torah disebut
sebagai jalan manusia datang kepada Allah.
![]()
35 Kata όδόρ
(hodos) berarti
jalan; jalan raya;
perjalanan; ajaran; jalan
hidup (Lih.Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi (PBIK) Jilid II, 2:522.). Moshe Weinfeld, “Deuteronomy 1-
11. Anchor Bible 5,” New York, 1991, 17–18.
36 Weinfeld,
“Deuteronomy 1-11. Anchor Bible 5,” 19–24.
Pernyataan Yesus adalah jalan memiliki fondasi yang
kuat dalam Perjanjian Lama. Yesus adalah pemberita jalan kepada Bapa sekaligus
jalan tersebut (Yoh. 14: 1-14). Hendriksen mengatakan bahwa Yesus memang
mengajarkan jalan tersebut (Mrk. 12: 14, Luk. 20: 21), menuntun orang percaya
kepada jalan tersebut (Luk. 1: 79) dan mendedikasikan seluruh hidup-Nya kepada
manusia, sehingga siapa yang berada di dalam jalan itu akan memeroleh kehidupan
baru (Ibr. 10: 20). 37 Jadi
Yesus Kristus adalah jalan dari Allah kepada manusia sebab semua berkat datang
dari Allah Bapa melalui Anak (Mat. 11: 27, 28) kemudian Yesus juga merupakan
jalan dari manusia menuju kepada Allah.
Kedua, Akulah kebenaran dari
kata
εγφ εηκη ή άιήζεηα
(ego eimi he
aletheia). Kata άιήζεηα
(aletheia) yang
artinya kebenaran; kejujuran.38 Dalam
istilah Inggris disebut truth bukan right. Oleh karena istilah truth yang dipakai dalam teks ini, maka
kata ini berarti kebenaran absolut atau kebenaran sejati. Kebenaran absolut
hanya memiliki dua pemahaman yakni: (1) Allah Tritunggal merupakan kebenaran
sejati yang disebut sebagai kebenaran subjek; (2) Firman Tuhan adalah kebenaran
sejati yang berperan juga sebagai subjek tetapi menjadikan diri-Nya sebagai
objek, sebab dibaca oleh setiap orang untuk menemukan jalan pikiran Allah,
perasaan, dan karya-Nya. Yesus adalah pribadi yang benar-benar absolut dan
tidak pernah berbuat salah serta dosa (bdk. 1Ptr. 2: 22). Kebenaran dalam teks
ini menggunakan kata sandang ή (he), maka bukan kebenaran biasa, tetapi
kebenaran yang luar biasa. Dengan demikian, kata kebenaran di dalam teks
Yohanes 14: 6 tidak disebutkan bahwa Yesus hanya mengajarkan kebenaran tetapi
justru Yesus menyatakan secara
terus-menerus
37 William
Hendriksen, New Testament Commentary: Exposition
of the Gospel According to John, New Testament commentary (Grand Rapids: Baker Academic, 2007),
267.
38 Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear
Yunani-Indonesia dan Konkordansi (PBIK) Jilid II, 2:41.
bahwa diri-Nya adalah kebenaran. Yesus Kristus dari Nazaret yang telah
berinkarnasi, menderita, mati, bangkit, hidup dan naik ke Surga diberikan
mandat penuh untuk menyelamatkan setiap orang yang percaya kebenaran Injil yang
diajarkan oleh para pengajar Kristen melalui Alkitab.
Ketiga, Akulah
hidup Kat hidup dalam bahasa Yunani δφή (zoe)
yang artinya hidup (kekal).39 Ungkapan hidup (zoe) dalam teks ini bukan hidup secara jasmani (bios) tetapi hidup yang dimaksudkan
ialah hidup kekal.40 Hidup yang dimaksud bukanlah sebatas menghirup
udara segar, berjalan, berlari, makan, minum dan bekerja. Ungkapan hidup di
dalam teks Yohanes 14: 6 menggunakan kata sandang ή (he) yang menunjukkan pada hidup tidak secara temporal, namun hidup
kekal. Dengan demikian saat Yesus menyatakan kepada para rasul tentang hidup
menunjukkan jalan keselamatan yang kekal.
Akulah Pokok Anggur yang benar (Yoh. 15: 1, 5)
![]()
Ungkapan ‖Akulah pokok anggur yang benar,‖ dalam bahasa Yunani Ἐγφ εηκη ἠ ἂκπειος
ἠ άιεζηλή (ego eimi he ampelos
he alethine). Frasa
‗pokok
anggur‘
dalam bahasa Yunani ἂκπειος (ampelos)
artinya pohon anggur.41 Dalam Injil
Yohanes 15: 1 menunjukkan Yesus sebagai pokok dan orang Kristen sebagai
ranting-rantingnya.42 Kata
άιεζηλή (alethine) berarti yang benar.43 Ungkapan
benar atau kebenaran menurut Kitab Injil Yohanes sebagai kebenaran Allah (bdk.
Yoh. 3: 33), kebenaran Yesus (Yoh. 8: 26), Roh Kudus sebagai Roh kebenaran yang
diutus oleh Bapa (Yoh. 15: 26), sehingga setiap orang percaya dipimpin
39 Hasan
Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru Jilid 1, Jilid 1 (Jakarta, 2014),
555, 575.
40 Hendriksen, New Testament Commentary: Exposition
of the Gospel According to John, 268.
41 Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru Jilid 1, 580.
42 W. R. F. Browning, Kamus Alkitab (Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2019), 24.
43 Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru Jilid 1, 580.
kepada seluruh kebenaran (Yoh. 16: 13).44 Kata sandang definit
pada frasa pokok anggur yang benar
ή
ἂκπειος
ή
άιεζηλή (he ampelos he
alethine)
mengindikasikan bahwa pokok anggur yang benar adalah Yesus Kristus. Dalam
perumpamaan ini Yesus menarasikan bahwa diri-Nya adalah pohon anggur yang benar
dan orang-orang percaya merupakan ranting-ranting-Nya. Setiap orang yang telah
percaya kepada Yesus harus terus-menerus memberi buah bahkan berbuah banyak
tetapi kalau hidup di luar Yesus Kristus, maka tidak akan berbuat apa- apa.45
Dengan demikian Yesus Kristus sebagai satu-satunya pokok kehidupan bagi orang percaya sehingga berbuah banyak
dan menjadi model yang baik bagi sesama.
Implikasi Bagi Umat Kristen
Para pelayan Kristus Yesus mesti berperan aktif dalam memberikan pengajaran dan
memproklamirkan kepada orang percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Allah yang hidup
dan telah membawa terang untuk dunia dan menyelamatkan umat manusia dari
dosanya serta memberikan kelegaan rohani.46 Pribadi yang memberikan
kepastian hidup adalah Kristus Yesus karena Dia adalah roti hidup. Kristus
telah membawa terang bagi dunia sesuai mandat yang diberikan Allah Bapa
kepada-Nya, melaksanakan misi-Nya, sehingga banyak orang yang menjadi pengikut
Kristus hingga saat ini. Oleh karena Yesus adalah terang dunia, maka umat Tuhan
mesti mengikuti pola kehidupan dan pelayanan- Nya (bdk. Mat. 5: 13-14). Guthrie
dkk menarasikan bahwa garam sangat
44 Menurut Septuaginta (alethine) berarti benar
dan sejati (Lih. Emanuel Gerrit
Singgih, “Ranting- ranting dari
Pohon Kehidupan: Pemahaman Alkitab mengenai Yohanes
15: 1-10,” Gema Teologi
33, no. 1 (2009).). Kata
άληθινή dari kata ἀληθινόρ yang
artinya benar; yang tulus; yang sebenarnya; yang sejati
(Lih.Sutanto, Perjanjian
Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi (PBIK) Jilid II, 2:42.). Browning, Kamus Alkitab, 55.
45 Stamps, Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, 1735.
46 Guthrie, Motyer, dan Stibbs, Tafsiran
Alkitab Masa Kini 3 Matius-Wahyu, 287.
berfaedah untuk mengawetkan makanan.47 Sedangkan terang
berfaedah untuk menerangi kegelapan. Pemahaman soal garam dan terang merupakan
tindakan hidup nyata yang membangun orang lain mesti diekspresikan oleh umat
Tuhan. Hidup dan perkataan yang bijaksana dari para rasul akan memengaruhi
masyarakat tetapi perhubungan dengan masyarakat tanpa menjadi tawar adalah
perlu diperioritaskan dalam kehidupan sehari-hari. Umat Tuhan perlu menjadi
terang bagi dunia (bdk. Rm. 2: 19; Flp. 2: 15).48
Tugas seorang pelayan Kristus Yesus disebut ποηκαίλο (poimaino) yang berarti menggembalakan;
memerintah dan mementingkan.49 Menggembala secara figuratif
mempunyai arti memimpin, menuntun dan melindungi.50 Pelayan Kristus Yesus harus berperan sebagai gembala
untuk mengasihi, peduli, dan membangun kerohanian bagi domba-dombanya.
Domba-domba diibaratkan sebagai umat Tuhan yang harus dilayani secara baik dan
benar, supaya karakter hidup mereka sama seperti Kristus. Yesus Kristus
memiliki karakter yang benar, yang ditunjukkan kepada para pengikut-Nya pada
masa dulu. Yesus sebagai gembala yang benar selalu bertanggung jawab dalam mencari
dan menemukan domba-domba (umat-Nya) yang hilang (bdk. Luk 19: 10).51
Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai gembala yang benar dalam menuntun umat-Nya
supaya hidup bersama dan bertumbuh di dalam Dia. Pelayan Kristus Yesus perlu
menggembalakan umat-Nya dengan hati yang tulus berarti setia dalam pelayanan
penggembalaan supaya umat-Nya bertumbuh kerohanian dengan baik. Pelayanan
![]()
47 Guthrie, Motyer,
dan Stibbs, 71.
48 Guthrie, Motyer,
dan Stibbs, 71.
49 Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear
Yunani-Indonesia dan Konkordansi (PBIK) Jilid II, 2:614.
50 Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear dan
Konkordansi Jilid 2,
614.
51 Ibelala Gea, “Kepemimpinan Yesus Teladan Pemimpin
Masa Kini,” Voice of Wesley:
Jurnal Ilmiah Musik dan Agama 3, no. 2 (2020):
29–40, https://doi.org/10.36972/jvow.v3i2.52.
penggembalaan sangatlah penting karena tanpa penggembalaan, maka umat-Nya
akan tercerai-berai. Seorang pelayan Kristus Yesus dalam memberikan pengajaran
mesti berpedoman pada firman Tuhan.
Yesus sebagai gembala yang benar pernah mengorbankan
nyawa-Nya bagi manusia yang telah hilang kemuliaan Allah karena dosa.52
Gembala yang benar (bdk. Mzm. 23: 1-6) telah menanggung dosa manusia hingga
mati di kayu salib. Para pelayan Kristus mengajarkan pengajaran sehat kepada
umat Tuhan supaya umat-Nya tidak mempraktikkan pengajaran sesat dan membawa
umat-Nya keluar dari ajaran sesat ketika umat-Nya telah tersesat/disesatkan
gembala palsu. Dalam pengajaran Kristen bahwa sesungguhnya para gembala jemaat
perlu loyal dalam menggembalakan umat Tuhan karena panggilan sebagai gembala
adalah panggilan dari Yesus Kristus. Gembala yang benar atau gembala agung
(Ibr. 13:20) memberikan nyawanya bagi domba-dombanya atau umat-Nya. Yesus
selama melayani orang banyak pada masa itu tidak mengajarkan jalan baru di
dalam diri orang lain untuk kehidupan kekal kepada para pendengar-Nya tetapi
justru Dia adalah jalan menuju hidup kekal. Jadi Kristus Yesus sebagai jalan
kehidupan dan pintu menuju kehidupan kekal bagi orang-rang yang mengasihi- Nya.
KESIMPULAN
Yohanes menarasikan tujuh pernyataan ego eimi dari ucapan Yesus bahwa Yesus
sebagai Allah. Akulah roti hidup, Akulah terang dunia, Akulah Pintu, Akulah
gembala yang baik, Akulah kebangkitan dan hidup, Akulah jalan dan
![]()
52 William Barclay, Pemahaman ALkitab Setiap Hari Injil
Matius Pasal 11-28 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010), 86.
kebenaran dan hidup dan Akulah Pokok Anggur yang benar. Ego eimi adalah pernyataan sakral Tuhan
Yesus untuk meyakinkan kepada para murid tentang eksistensi-Nya sebagai Allah
yang hidup. Pemahaman tentang ego eimi memberikan
pengaruh dalam mengenal pribadi dan karya dari Yesus Kristus, sehingga semakin
memperkuat dasar iman umat Kristen dalam memproklamirkan Kabar Baik.
DAFTAR PUSTAKA
Barclay, William. Pemahaman ALkitab Setiap Hari Injil Matius
Pasal 11-28.
Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2010.
Blum, Edwin A.
―John. The Bible
Knowledge Commentary.‖ Wheaton,
IL:
Victor
Books, 1985.
Brickner,
David. Christ in the Feast of Tabernacles.
Chicago, Illinois: Moody Publishers, 2006.
Browning, W.
R. F. Kamus Alkitab. Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2019.
G. R. Beasley
Murray. John Volume 36. Dallas,
Texas: Word Books, Publisher, 2002.
Gea, Ibelala. ―Kepemimpinan Yesus
Teladan Pemimpin
Masa Kini.‖ Voice
of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama 3,
no. 2 (2020): 29–40. https://doi.org/10.36972/jvow.v3i2.52.
Gulo, Arif Yupiter. ―Cerdik
seperti Ular dan Tulus seperti Merpati: Berdasarkan Matius 10:16b.‖ Manna Rafflesia 7, no. 1 (31 Oktober
2020): 116–34. https://doi.org/10.38091/man_raf.v7i1.129.
Guthrie, Motyer, dan Stibbs.
Tafsiran Alkitab Masa Kini 3 Matius-Wahyu.
Jakarta:
YAyasan Bina KAsih/OMF, 2001.
Hadiwijono,
Harun. Iman Kristen. Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2007. Harrison, F. Evertt. John
The Gospel of Faith. Chicago: Moody Press, 1962.
Hendriksen,
William. New Testament Commentary:
Exposition of the Gospel According to John. New Testament commentary. Grand Rapids: Baker Academic, 2007.
Ka‘pan, Polikarpus. ―Kebangkitan Yesus
Kristus Dasar
Iman
Kristen.‖ Jurnal Jaffray 5, no. 1 (2007): 7. https://doi.org/10.25278/jj71.v5i1.121.
Laia, Kejar Hidup.
―Makna Injil
Berdasarkan Roma 1:
16-17 Dan Implementasinya Bagi Gereja Masa Kini.‖ Manna Rafflesia 7, no. 1 (2020): 1–21.
https://doi.org/10.38091/man_raf.v7i1.133.
Lilo, Deflit Dujerslaim. ―Presuposisi
dan Metode Yesus
dalam Menyampaikan Pendapat: Sebuah Pedoman bagi Para
Akademisi.‖ BIA’: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual
2, no. 1 (26 Juni 2019): 121–38. https://doi.org/10.34307/b.v2i1.86.
Marisi, Candra
Gunawan.
―Analisis
Teologis
Mengenai
Tugas Dan Tanggungjawab Gembala Yang Baik Menurut
Yohanes 10: 1--18 Dan Penerapannya Bagi Gembala Masa Kini.‖ Real Didache Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 4, no. 2 (2019): 46.
Morris, Leon. Teologi
Perjanjian Baru. Malang: Gandum Mas, 2014.
Nugroho, Daniel. ―Mengulas Lengkap Siapa Pribadi Yesus.‖ Www.danielnugroho.com. Faith, 9 Januari 2021.
https://www.danielnugroho.com/faith/mengulas-lengkap-siapa-pribadi-
yesus/.
Singgih,
Emanuel Gerrit. ―Ranting-ranting dari
Pohon Kehidupan: Pemahaman Alkitab mengenai Yohanes 15: 1-10.‖ Gema Teologi
33, no. 1 (2009).
Stamps, Donald C. Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan.
Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2008.
Sumiwi, Asih
Rachmani
Endang. ―Gembala
Sidang Yang Baik
menurut Yohanes 10:1-18.‖ HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen 4, no. 2 (2020): 74–93.
https://doi.org/10.52104/harvester.v4i2.16.
Sutanto, Hasan.
Perjanjian Baru Interlinear dan
Konkordansi Jilid 2. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2014.
———. Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru Jilid 1.
Jilid 1. Jakarta, 2014.
Weinfeld,
Moshe. ―Deuteronomy 1-11. Anchor Bible 5.‖ New
York, 1991, 226– 30.
Zaluchu, Sonny Eli. ―Strategi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif Di Dalam Penelitian Agama.‖ Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat 4, no. 1 (2020): 28–38.
https://doi.org/10.46445/ejti.v4i1.167.
Komentar
Posting Komentar